PENGENDALIAN HAYATI PADA TANAMAN KENTANG ( Solanum tuberosum L. )
PENGENDALIAN HAYATI PADA TANAMAN
KENTANG ( Solanum tuberosum L. )
Tugas ini ditujukan untuk memenuhi salah satu tugas matakuliah Pengendalian Hayati
Disusun Oleh:
1. |
Puja Kurnia M |
(2403310033) |
![]() |
UNIVERSITAS GARUT
FAKULTAS PERTANIAN
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI S1
2012
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
Shalawat serta salam semoga selalu dilimpahkan kepada baginda Rasul, Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan mudah-mudahan sampai kepada kita selaku umat yang selalu mengharapkan safaatnya. Amiin.
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas matakuliah Pengendalian Hayati dengan dosen pengampu yaitu Bapak. Jenal Mutakin. S.P M.P.
Dalam penyelesaian makalah ini tidak terlepas dari dorongan dan bantuan yang telah diberikan oleh berbagai pihak kepada penulis.
Maka melalui kesempatan yang baik ini, tidak lupa penulis sampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang turut membantu dalam menyelesaikan makalah ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk menyempurnakan makalah ini. Harapan penulis semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis khusunya dan bagi pembaca pada umumnya.
Garut, Nopember 2012
Penulis
KATA PENGANTAR........................................................................................................... i
DAFTAR ISI........................................................................................................................... ii
BAB 1 PENDAHULUAN...................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang.................................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah............................................................................................................... 2
1.3 Tujuan................................................................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN........................................................................................................ 3
2.1 Tanaman Kentang............................................................................................................... 3
2.1.1 Sejarang Singkat....................................................................................................... 3
2.1.2 Jenis Tanaman.......................................................................................................... 3
2.1.3 Manfaat Tanaman..................................................................................................... 4
2.2 Budidaya Kentang.............................................................................................................. 4
2.3 Pengendalian Hayati........................................................................................................... 8
2.4 Penerapan Pengendalian Hayati Sebagai Salah Satu Komponen Penting Dari
Pengendalian Hama Terpadu (PHT)………………………………………………………13
BAB III PENUTUP................................................................................................................ 22
3.1 Kesimpulan......................................................................................................................... 22
3.2 Saran................................................................................................................................... 22
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kentang (Solanum tuberosum L) merupakan salah satu komoditas sayuran yang mendapat prioritas dalam proses produksinya karena dapat mendatangkan keuntungan bagi petani, memiliki peluang dalam pemasaran dan ekspor, tidak mudah rusak seperti pada sayuran lainnya dan juga memiliki kadar kalori, protein dan vitamin yang tinggi.Rendahnya produktivitas kentang di Indonesia disebabkan oleh beberapa hal antara lain rendahnya mutu benih yang digunakan petani, tingginya biaya produksi bibit, pengetahuan kultur teknis masih kurang, menanam kentang secara terus menerus, umur panen yang kurang tepat, penyimpanan yang kurang baik, permodalan yang terbatas dan yang paling utama adalah faktor kehilangan hasil akibat serangan hama dan penyakit (Soelarso, 1997).
Pada dasarnya semua tanaman yang kita budidayakan di lahan, hidupnya dalam keadaan terancam baik oleh hama maupun penyakit. Maka untuk menekan keberadaan hama dan penyakit perlu dilakukan pengendalian.
Pada saat ini upaya pengendalian terhadap hama dan penyakit tanaman masih mengandalkan penggunaan pestisida sebagai upaya pengendalian utama. Kenyataannya menunjukkan bahwa upaya pengendalian dengan menggunakan senyawa kimia bukan merupakan alternatif yang terbaik, karena sifat racun yang terdapat dalam senyawa tersebut dapat meracuni manusia, ternak piaraan, serangga penyerbuk, musuh alami, tanaman, serta lingkungan yang dapat menimbulkan polusi bahkan pemakaian dosis yang tidak tepat bias membuat hama dan penyakit menjadi resisten. Selain itu dengan adanya aplikasi pestisida sintetik yang tidak bijaksana dapat memicu timbulnya pathogen yang resisten terhadap pestisida sistetik yang digunakan.
Berdasarkan hal tersebut maka perlu diambil alternatif pengendalian yang efektif terhadap hama dan penyebab penyakit tanaman tanpa mengandalkan pestisida sistetik. Pengendalian biologi (hayati) menunjukkan alternatif pengedalian yang dapat dilakukan tanpa harus memberikan pengaruh negatif terhadap lingkungan dan sekitarnya, salah satunya adalah dengan pemanfaatan agens hayati seperti virus, jamur atau cendawan, bakteri atau aktiomisetes.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian pengendalian hayati?
2. Bagaimana penerapan pengendalian hayati dalam mengendalikan hama dan penyakit pada tanaman kentang ?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1. Untuk memahami pengertian pengendalian hayati
2. Mempelajari penerapan pengendalaian hayati dalam mengendalikan hama dan penyakit pada tanaman kentang
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Tanaman Kentang
2.1.1 Sejarah Singkat
Tanaman kentang berasal dari Amerika Selatan (Peru, Chili, Bolivia, dan Argentina) serta beberapa daerah Amerika Tengah. Di Eropa daratan tanaman itu diperkirakan pertama kali diintroduksi dari Peru dan Colombia melalui Spanyol pada tahun 1570 dan di Inggris pada tahun 1590 (Hawkes, 1990). Penyebaran kentang ke Asia (India, Cina, dan Jepang), sebagian ke Afrika, dan kepulauan Hindia Barat dilakukan oleh orang-orang Inggris pada akhir abad ke-17 dan di daerah-daerah tersebut kentang ditanam secara luas pada pertengahan abad ke-18 (Hawkes, 1992).
Menurut Permadi (1989), saat masuknya tanaman kentang di Indonesia tidak diketahui dengan pasti, tetapi pada tahun 1794 tanaman kentang ditemukan telah ditanam di sekitar Cisarua (Kabupaten Bandung) dan pada tahun 1811 tanaman kentang telah tersebar luas di Indonesia, terutama di daerah-daerah pegunungan di Aceh, Tanah Karo, Sumatera Barat, Bengkulu, Sumatera Selatan, Minahasa, Bali, dan Flores. Di Jawa daerah-daerah pertanaman kentang berpusat di Pangalengan, Lembang, dan Pacet (Jawa Barat), Wonosobo dan Tawangmangu (Jawa Tengah), serta Batu dan Tengger (Jawa Timur).
2.1.2 Jenis Tanaman
Kentang (Solanum tuberosum L) termasuk jenis tanaman sayuran semusim, berumur pendek dan berbentuk perdu/semak. Kentang termasuk tanaman semusim karena hanya satu kali berproduksi, setelah itu mati. Umur tanaman kentang antara 90-180 hari.
Menurut Gembong (1994), kentang (Solanum tuberosum L) diklasifikasikan sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Tubiflorae (Solanales, Personatae)
Famili : Solanaceae
Genus : Solanum
Species : Solanun tuberosum L.
Dari tanaman ini dikenal pula spesies-spesies lain yang merupakan spesies liar, di antaranya Solanum andigenum L, Solanum anglgenum L, Solanum demissum L dan lain-lain. Varietas kentang yang banyak ditanam di Indonesia adalah kentang kuning varietas Granola, Atlantis, Cipanas dan Segunung .
2.1.3 Manfaat Tanaman
Melihat kandungan gizinya, kentang merupakan sumber utama karbohidrat. Kentang menjadi makanan pokok di banyak negara barat. Zat-zat gizi yang terkandung dalam 100 gram bahan adalah kalori 347 kal, protein 0,3 gram, lemak 0,1 gram, karbohidrat 85,6 gram, kalsium (Ca) 20 gram, fosfor (P) 30 mg, besi (Fe) 0,5 mg dan vitamin B 0,04 mg
2.2 Budidaya Kentang
Syarat
Pertumbuhan
· Curah hujan rata-rata 1500 mm/tahun
· Lama penyinaran 9-10 jam/hari
· Suhu optimal 18-21 °C
· Kelembaban 80-90%
· Ketinggian antara 1.000-3.000 m dpl.
· (Media Tanam). Struktur remah, gembur, banyak mengandung bahan organik, berdrainase baik dan memiliki lapisan olah yang dalam dan pH antara 5,8-7,0
Pembibitan
· Umbi bibit berasal dari umbi produksi berbobot 30-50 gram, umur 150-180 hari, tidak cacat, dan varitas unggul. Pilih umbi berukuran sedang, memiliki 3-5 mata tunas dan hanya sampai generasi keempat saja. Setelah tunas + 2 cm, siap ditanam.
· Bila bibit membeli (usahakan bibit yang bersertifikat), berat antara 30-45 gram dengan 3-5 mata tunas. Penanaman dapat dilakukan tanpa/dengan pembelahan. Pemotongan umbi dilakukan menjadi 2-4 potong menurut mata tunas yang ada. Sebelum tanam umbi direndam dulu menggunakan POC NASA selama 1-3 jam (2-4 cc/lt air).
Pengolahan
Media Tanam
Lahan dibajak sedalam 30-40 cm dan biarkan selama 2 minggu sebelum dibuat bedengan dengan lebar 70 cm (1 jalur tanaman)/140 cm (2 jalur tanaman), tinggi 30 cm dan buat saluran pembuangan air sedalam 50 cm dan lebar 50 cm. Natural Glio yang sudah terlebih dahulu dikembangbiakkan dalam pupuk kandang ± 1 minggu, ditebarkan merata pada bedengan (dosis : 1-2 kemasan Natural Glio dicampur 50-100 kg pupuk kandang/1000 m2).
Teknik
Penanaman
· Pemupukan Dasar
a. Pupuk anorganik berupa urea (200 kg/ha), SP 36 (200 kg/ha), dan KCl (75 kg/ha).
b. Siramkan pupuk POC NASA yang telah dicampur air secukupnya secara merata di atas bedengan, dosis 1-2 botol/ 1000 m². Hasil akan lebih bagus jika menggunakan SUPER NASA dengan cara : alternatif 1 : 1 botol Super Nasa diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan. alternatif 2 : setiap 1 gembor vol 10 lt diberi 1 peres sendok makan Super Nasa untuk menyiram 10 meter bedengan. Penyiraman POC NASA / SUPER NASA dilakukan sebelum pemberian pupuk kandang.
c. Berikan pupuk kandang 5-6 ton/ha (dicampur pada tanah bedengan atau diberikan pada lubang tanam) satu minggu sebelum tanam,
· Cara Penanaman
Jarak tanaman tergantung varietas, 80 cm x 40 cm atau 70 x 30 cm dengan kebutuhan bibit + 1.300-1.700 kg/ha (bobot umbi 30-45 gr). Waktu tanam diakhir musim hujan (April-Juni).
Pemeliharaan
Tanaman
· Penyulaman
Penyulaman untuk mengganti tanaman yang tidak tumbuh/tumbuhnya jelek dilakukan 15 hari semenjak tumbuh.
· Penyiangan
Penyiangan dilakukan minimal dua kali selama masa penanaman 2-3 hari sebelum/bersamaan dengan pemupukan susulan dan penggemburan.
· Pemangkasan Bunga
Pada varietas kentang yang berbunga sebaiknya dipangkas untuk mencegah terganggunya proses pembentukan umbi, karena terjadi perebutan unsur hara.
· Pemupukan Susulan
a. Pupuk Makro
Urea/ZA : 21 hari setelah tanam (hst) 300 kg/ha dan 45 hst 150 kg/ha. SP-36: 21 hst 250 kg/ha. KCl : 21 hst 150 kg/ha dan 45 hst 75 kg/ha. Pupuk makro diberikan jarak 10 cm dari batang tanaman.
b. POC NASA : mulai umur 1 minggu s/d 10 atau 11 minggu.
Alternatif I : 8-10 kali (interval 1 minggu sekali dengan dosis 4 tutup/tangki atau 1 botol (500 cc)/ drum 200 lt air.
Alternatif II : 5 - 6 kali (interval 2 mingu sekali dengan dosis 6 tutup/tangki atau 1,5 botol (750 cc)/ drum 200 lt air.
c. HORMONIK
Penyemprotan POC NASA akan lebih optimal jika dicampur HORMONIK (dosis 1-2 tutup/tangki atau + 2-3 botol/drum 200 liter air).
· Pengairan
Tanaman kentang sangat peka terhadap kekurangan air. Pengairan harus dilakukan secara rutin tetapi tidak berlebihan. Pemberian air yang cukup membantu menstabilkan kelembaban tanah sebagai pelarut pupuk. Selang waktu 7 hari sekali secara rutin sudah cukup untuk tanaman kentang. Pengairan dilakukan dengan cara disiram dengan gembor/embrat/dengan mengairi selokan sampai areal lembab (sekitar 15-20 menit).
Hama dan Penyakit
Hama
· Lalat pengorok daun kentang (Liriomyza huidobrensis)
· Ulat grayak (Spodoptera litura)
· Kutu daun (Aphis Sp)
· Hama penggerek umbi (Phtorimae poerculella Zael)
· Hama trip (Thrips tabaci)
Penyakit
· Penyakit busuk daun
· Penyakit layu bakteri
· Penyakit busuk umbi
· Penyakit fusarium
· Penyakit bercak kering (Early Blight)
Panen dan Cara Panen
Tanaman kentang dipanen pada umur 90 hingga 160 hari setelah tanam (HST).Waktu memanen sangat dianjurkan dilakukan pada waktu sore hari/pagi hari dan dilakukan pada saat hari cerah. Cara memanen yang baik adalah sebagai berikut: cangkul tanah disekitar umbi kemudian angkat umbi dengan hati hati dengan menggunakan garpu tanah. Setelah itu kumpulkan umbi ditempat yang teduh. Hindari kerusakan mekanis waktu panen.
Pascapanen
· Penyortiran dan Pengolongan
Umbi yang baik dan sehat dipisahkan dengan umbi yang cacat dan terkena penyakit. Kegiatan ini akan mencegah penularan penyakit kepada umbi yang sehat. Kentang di sortir berdasarkan ukuran umbi (tergantung varitas).
· Penyimpanan
Simpan umbi kentang dalam rak-rak yang tersusun rapi, sebaiknya ruangan tempat penyimpanan dibersihkan dan disterilisasi dahulu agar terbebas dari bakteri. Simpan di tempat yang tertutup dan berventilasi.
· Pengemasan dan Pengangkutan
Alat pengemas harus bersih dan terbuat dari bahan yang ringan. Pengemas harus berventilasi dan di bagian dasar dan tepi diberi bahan yang mengurangi benturan selama pengangkutan.
· Pembersihan
Petani konvensional hampir tidak pernah membersihkan umbi. Untuk memasarkan kentang di pasar swalayan/ke luar negeri, kentang harus dibersihkan terlebih dulu. Bersihkan umbi dari segala kotoran yang menempel dengan lap. Lakukan perlahan-lahan jangan sampai menimbulkan lecet-lecet. Selain itu umbi dapat dibersihkan dengan cara dicuci di air mengalir yang tidak terlalu deras kemudian dikeringanginkan. Umbi yang bersih akan memperpanjang keawetan umbi selain itu juga akan menarik konsumen.
2.3 Pengendalian Hayati
Secara umum pengertian pengendalian hama secara biologi/hayati adalah penggunaan makhluk hidup untuk membatasi populasi organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Makhluk hidup dalam kelompok ini diistilahkan juga sebagai organisme yang berguna yang dikenal juga sebagai musuh alami, seperti predator, parasitoid, patogen.
Pengendalian hayati sangat dilatarbelakangi oleh berbagai pengetahuan dasar ekologi, terutama teori tentang pengaturan populasi oleh pengendali alami dan keseimbangan ekosistem. Pengendalian hayati merupakan komponen yang penting dari program pengendalian hama terpadu (PHT)
Tiga pendekatan dalam pengendalian hayati adalah importasi atau yang disebut pula dengan sebutan pengendalian hayati klasik, augmentasi, dan konservasi.
Melibatkan introduksi musuh alami (pemangsa, parasitoid, dan patogen) eksotik, dan umumnya digunakan untuk melawan hama eksotik pula. Pendekatannya didasarkan pada pemahaman bahwa makhluk hidup yang tidak disertai dengan musuh alami asli akan lebih bugar (fit) dan akan lebih melimpah dan lebih mampu bersaing daripada yang menjadi subjek pengendalian alami. Untuk mengendalikannya perlu dicarikan musuh alami yang efektif di tempat asalnya.
Introduksi (mendatangkan/mengimpor) musuh-musuh alami dari luar negeri/daerah lain untuk dilepaskan didaerah baru. Introduksi dapat ditempuh apabila hama yang menyerang suatu tanaman pada umumnya menimbulkan eksplosi dan diketahui hama tersebut bukan merupakan hama asli daerah tersebut. Contohnya : import predator Curinus coerulens dari Hawai untuk mengendalikan kutu loncat lamtoro.
Didasarkan pada pengetahuan atau asumsi bahwa pada beberapa situasi jumlah individu atau jenis musuh alami tidak cukup memadai untuk mengendalikan hama secara optimal. Oleh karena itu, untuk meningkatkan efektivitas pengendalian hama, jumlah musuh alami perlu ditambah melalui pelepasan secara periodik. Ada dua pendekatan augmentasi, yaitu inokulasi sejumlah kecil musuh alami dan inundasi (membanjiri) dengan jumlah yang besar, tergantung pada tujuannya.
Inokulasi, yaitu pelepasan musuh alami dalam jumlah relatif sedikit dengan harapan pada generasi selanjutnya akan menekan populasi hama dan musuh alami tersebut relatif menetap lebih lama.
Inundasi, yaitu pelepasan musuh alami dalam jumlah besar (hasil pembiakan missal di laboratorium) dengan tujuan secara cepat menekan populasi hama, sehingga populasi hama dapat analog dengan aplikasi insektisida biologis. Karena inundasi lebih bersifat sesaat, maka pada satu musim tanam sering kali perlu dilakukan beberapa kali pelepasan. Selain itu, De Bach dan Hagen (1964) dalam Anonim (1997) menjelaskan bahwa pengendalian secara augmentasi (khususnya inundasi) dapat dilakukan apabila terjadi masalah hama dengan kriteria sebagai berikut :
- Terdapat musuh alami yang berpotensi menekan hama tetapi tidak efektif, karena kondisi lingkungan tidak mendukung.
- Hama tidak mudah dikendalikan atau terlalu mahal apabila dikendalikan dengan metode lain.
- Metode lain tidak dikehendaki karena beberapa alasan seperti residu pestisida, resistensi hama atau akan timbulnya hama sekunder.
- Hanya satu atau dua jenis hama yang selalu menimbulkan kerugian dan memerlukan pengendalian.
3. Pengendalian hayati konservasi
Pada dasarnya adalah melindungi, memelihara, dan meningkatkan efektivitas populasi musuh alami yang sudah ada di suatu habitat. Konservasi merupakan pendekatan paling penting jika kita ingin memelihara populasi musuh alami, baik asli maupun eksotik, di dalam ekosistem pertanian.
Agen Hayati
Merupakan organisme yang bertindak sebagai musuh alami dalam melakukan pengendalian terhadap organisme pengganggu tanaman atau organisme yang bersifat antagonis terhadap organisme pengganggu tanaman. Dan dapat merusak, mengganggu kehidupan atau menyebabkan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) sakit atau mati. Agen Hayati dapat berupa predator, parasitoid, patogen dan agens antagonis.
· Predator
Adalah binatang yang memburu dan memakan atau menghisap cairan tubuh mangsanya. Contoh : Lycosa pseudoannulata (laba-laba).
· Parasitoid
Adalah serangga yang hidup sebagai parasit pada atau di dalam serangga lainnya (serangga inang) hanya selama masa pra dewasa (masa larva). Imago hidup bebas bukan sebagai parasit dan hidup dari memakan nektar, embun madu, air dan lain-lain. Contoh : Diadegma semiclausum (parasitoid terhadap ulat daun kubis).
· Patogen
Adalah mikroorganisme yang menyebabkan infeksi dan menimbulkan penyakit terhadap OPT. Secara spesifik mikroorganisme yang dapat menimbulkan penyakit pada serangga disebut mikroorganisme entomopatogen, yang terdiri dari cendawan, bakteri dan virus.
· Agens Antagonis
Adalah mikroorganisme yang mengintervensi/menghambat pertumbuhan patogen penyebab penyakit pada tumbuhan.
Keuntungan Agen Hayati
- Efisiensi tinggi dan tidak memerlukan pengetahuan dan keterampilan khusus dalam pembuatan agens hayati.
- Selektifitas yang tinggi, agens hayati hanya membunuh OPT dan tidak membunuh organisme non OPT ataupun musuh alami. Dengan demikian tidak akan terjadi resurgensi atau ledakan OPT sekunder.
- Agens Hayati yang digunakan sudah ada di alam, dapat mencari dan menemukan hama dan penyakit.
- Dapat berkembang biak dan menyebar.
- Hama dan penyakit tidak menjadi resisten.
- Tidak ada pengaruh sampingan yang buruk.
- Pengendalian dapat berjalan dengan sendirinya dan berkelanjutan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pengendalian hayati
- Lingkungan
- Kemampuan musuh alami bertahan hidup pada suatu lingkungan.
- Tingkat perkembangan musuh alami
Keuntungan pengendalian hayati (Steka, 1975 dalam Mudjiono, 1994) :
1. Selektifitasnya tinggi dan tidak dapat menimbulkan ledakan hama baru dan resurgensi hama.
2. Faktor pengendali (agens) yang digunakan tersedia dilapang.
3. Agens hayati (parasitoid dan predator) dapat mencari sendiri inang atau mangsanya.
4. Agens hayati (parasitoid, predator, dan pathogen) dapat berkembangbiak dan menyebar.
5. Tidak menimbulkan resistensi terhadap serangga inang/mangsa ataupun kalau terjadi, sangat lambat.
6. Pengendalian ini dapat berjalan dengan sendirinya karena sifat agens hayati tersebut.
7. Tidak ada pengaruh samping yang buruk seperti pada penggunaan pestisida.
- Ramah lingkungan (tidak merusak ekosistem pada suatu lingkungan pertanian)
- Efisiensi tenaga dan biaya
Kelemahan pengendalian hayati (Steka, 1975 dalam Mudjiono, 1994) :
1. Pengendalian terhadap OPT berjalan lambat.
2. Hasilnya tidak dapat diramalkan.
3. Sukar untuk pengembangan dan penggunaannya.
4. Dalam pelaksanaannya pengendalian hayati memerlukan pengawasan untuk mengetahui tingkat keberhasilannya. Pengembangan pengendalian hayati perlu dilakukan pengawalan dengan :
- Teknologi aplikasi yang tepat agar keberhasilannya dapat terlihat dengan nyata.
- Modifikasi lingkungan untuk meningkatkan efektifitas agens pengendali.
Dengan melihat kelebihan tersebut, maka pengendalian hayati mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan dalam menanggulangi OPT, yang sesuai dengan prinsip-prinsip PHT. Dengan diterapkannya pengendalian hayati diharapkan diperoleh produk pertanian yang aman bagi konsumen dalam kaitannya dengan residu pestisida, terutama bagi produk yang berorientasi ekspor, disamping aman bagi lingkungan.
2.4 Penerapan Pengendalian Hayati Sebagai Salah Satu Komponen Penting Dari Pengendalian Hama Terpadu (PHT)
· Lalat pengorok daun kentang (Liriomyza huidobrensis)
Gejala serangan : Daun yang terserang memperlihatkan gejala bintik-bintik putih akibat tusukan ovipositor, dan berupa liang korokan larva yang berkelok-kelok. Serangan berat dapat mengakibatkan hampir seluruh helaian daun penuh dengan korokan, sehingga daun menjadi kering dan berwarna coklat seperti terbakar atau mirip gejala busuk daun.
Pengendalian :
1. Kultur teknis
Cara ini dilakukan dengan menerapkan budidaya tanaman sehat yang meliputi :
- Penggunaan varietas yang tahan
- Sanitasi yaitu dengan membersihkan gulma
- Pemupukan berimbang
- Menimbun bagian-bagian tanaman yang terserang
2. Mekanis
- Pemangkasan daun-daun yang terserang dan daun bagian bawah yang telah tua.
- Larva dikumpulkan dari sekitar tanaman yang rusak kemudian dimusnahkan.
- Pemasangan yellow sticky trap dengan membentangkan kain kuning (lebar 0,9 m x panjang sesuai kebutuhan atau 7 m, untuk setiap lima bedengan memanjang) berperekat di atas tajuk tanaman kentang (Baso et al. 2000). Goyangkan pada tanaman membuat lalat dewasa beterbangan dan terperangkap pada kain kuning.
- Pengendalian hayati dengan parasitoid hanya mungkin berhasil bila disertai upaya pengurangan penggunaan insektisida.
3. Biologis (Pengendalian Hayati)
Dengan memanfaatkan musuh alami. Musuh alami yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama penggorok daun pada kentanng antara lain:
a. Hemiptarsenus varicorni
H. varicornis (Hymenoptera : Eulophidae) merupakan parasitoid penting pada hama Liriomyza huidobrensis. Parasitoid tersebut dapat di temukan di seluruh areal pertanaman kentang yang terserang L. huidobrensis. Tingkat parasitasi H. varicornis terhadap L. huidobrensis pada tanaman kentang adalah 37,33%. Nisbah kelamin antara jantan dan betina adalah 1,5 : 1 (Setiawati dan Suprihatno, 2000). Siklus hidup H. varicornis berkisar antara 12-16 hari. Masa telur, larva dan pupa masing-masing 1-2 hari, 5-6 hari, dan 6-8 hari. Masa hidup betina berkisar antara 88-22 hari. Satu ekor betina mampu menghasilkan telur sebanyak 24-42 butir (Hindrayani dan Rauf, 2002. dalam A.S. Duriat et al. 2006).
H. varicornis merupakan parasitoid yang memiliki potensi besar sebagai pengendali hayati untuk mengendalikan hama pengorok daun Liriomyza di Indonesia, karena disamping pertimbangan faktor fekunditas dan lama hidup imago betinanya, juga merupakan parasitoid lokal yang sudah beradaptasi di wilayah Indonesia. Pemanfaatan parasitoid ini dilakukan dengan cara konservasi melalui pengaturan pola tanam dan aplikasi teknologi pertanian ramah lingkungan.
Dengan memperhatikan data tersebut di atas, maka dapat dilakukan upaya konservasi H. varicornis di lapangan untuk mengendalikan pengorok daun Liriomyza spp. melalui manipulasi lingkungan (tritropic levels) dengan memadukan antara pengaturan pola tanam dan penerapan teknologi pertanian ramah lingkungan, yaitu:
1. Pengaturan pola tanam, dengan pilihan sebagai berikut:
- Menanam tanaman kacang merah (red bean) atau buncis (snap bean) sebagai tanaman perangkap Liromyza sekaligus tempat berkembang biaknya parasitoid H. varicornis pada pematang atau pinggiran kebun, yang sebaiknya ditanam lebih awal sebelum tanaman pokoknya.
- Menanam tanaman pada awal musim tanaman yang jika terserang Liriomyza spp. tidak mengakibatkan kerugian secara ekonomis, karena menyerang daun yang sudah tua seperti brokoli atau kubis, kemudian pada musim tanam kedua menanam kentang atau bawang daun yang ditumpangsarikan dengan kacang merah atau buncis.
- Melakukan sistem pola tanam tumpang sari antara kacang merah dengan kentang, buncis dengan bawang daun, buncis dengan kubis, dan lain-lain.
2. Menerapkan teknologi pertanian ramah lingkungan (organik) sehingga populasi parasitoid di lapangan tidak terganggu. Adapun teknologi pertanian ramah lingkungan yang dapat dilakukan dalam budidaya tanaman sayuran dan tanaman hias antara lain: penggunaan pupuk organik baik yang sudah menjadi kompos ataupun dalam bentuk pupuk kandang, penggunaan pestisida botani dengan memanfaatkan ekstrak bagian dari tumbuhan untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman.
b) Opius sp.
Opius sp. merupakan parasitoid penting hama L. huidobrensis. Telur berbentuk lonjong, dengan salah satu bagian ujungnya sedikit lebih membengkak dibandingkan dengan ujung yang lain. Siklus hidupnya berkisar antara 13-59 hari. Masa telur, larva dan pupa masing-masing 2, 6, dan 6 hari. Satu ekor betina mampu menghasilkan telur sebanyak 49-187 butir. Instar yang paling cocok untuk perkembangan parasitoid Opius sp., adalah instar ke-3. Pada instar tersebut masa perkembangan parasitoid lebih singkat dan keturunan yang dihasilkan lebih banyak dengan proposi betina yang lebih tinggi. Nisbah kelamin jantan dan betina adalah 1:1 (Rustam et a.l, 2002. dalam A.S. Duriat et al., 2006).
Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No.: 698/kpts/tp.120/8/1998 Tentang Izin Pemasukan Beberapa Jenis Parasitoid Dari Hawaii Ke Dalam Wilayah Negara Republik Indonesia. Memberikan izin kepada Pusat Kajian Pengendalian Hama Terpadu, Institut Pertanian Bogor untuk memasukkan 5 (lima) jenis parasitoid dari Hawaii untuk mengendalikan hama Liriomyza huidobrensis melalui Bandar Udara Soekarno – Hatta, Jakarta.
Jenis-jenis parasitoid dimaksud adalah sebagai berikut :
1. Diglyphus-begini, ektoparasitoid larva;
2. Diglyphus-intermedius, ektoparasitoid larva;
3. Chrysocaris-oscinidus, endoparasitoid larva-pupa;
4. Ganaspidium-utilis, endoparasitoid larva-pupa; dan
5. Halticoptera-circulus, endoparasitoid larva-pupa.
4. Kimia
Apabila cara lain tidak dapat menekan populasi hama, digunakan insektisida yang efektif, terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian seperti insektisida Neem azal T/S Azadirachtin 1 % (Baso et al., 2000 dalam A.S Duriat et al., 2006) atau Trigad 75 WP, Agrimec 18 EC (Novartis, 1998 dalam A.S. Duriat et al., 2006).
Insektisida untuk mengendalikan hama ini, dengan Frekuensi aplikasi dua kali per minggu. Insektisida yang paling banyak digunakan adalah dari golongan piretroid dan organofosfat.
· Kutu daun (Aphis Sp)
Gejala: kutu daun menghisap cairan dan menginfeksi tanaman, juga dapat menularkan virus bagi tanaman kentang.
Pengendalian :
1. Secara bercocok tanam/kultur teknis, meliputi cara-cara yang mengarah pada budidaya tanaman sehat yaitu : terpenuhinya persyaratan tumbuh (suhu, curah hujan, angin, ketinggian tempat, tanah), pengaturan jarak tanam, pemupukuan, dan pengamatan pada kanopi tunas seluas 0,25 m2. Hitung serangga dewasa yang ada setiap 2 minggu.
- Mekanis dan fisik, dilakukan dengan membersihkan kebun/ sanitasi terhadap gulma atau dengan menggunakan mulsa jerami di bedengan pembibitan kentang, serta membunuh langsung serangga yang ditemukan.
- Biologi, dengan memanfaatkan musuh alami predator dari famili Syrphidae, Menochillus sp., Scymnus sp. (Coccinelidae), Crysophidae, Lycosidae dan parasitoid Aphis sp.
- Kimiawi, dengan menggunakan insektisida selektif dan efektif sesuai rekomendasi, dilakukan secara spot spray pada tunas bila tunas terserang 25 %.
· Ulat Grayak (Spodoptera litura F.)
Gejala serangan : larva yang masih kecil merusak daun yang menyerang secara serentak berkelompok. Dengan meninggalkan sisa-sisa epidermis bagian atas, transparan dan tinggal tulang-tulang daun saja. Biasanya larva berada di permukaan bawah daun, umumnya terjadi pada musim kemarau.
Pengendalian :
1. Kultur teknis
- Pembakaran tanaman
- Pengolahan tanah yang intensif.
2. Pengendalian fisik / mekanis
- Mengumpulkan larva atau pupa dan bagian tanaman yang terserang kemudian memusnahkannya.
- Penggunaan perangkap feromonoid seks untuk ngengat sebanyak 40 buah per hektar atau 2 buah per 500 m2 dipasang di tengah tanaman sejak tanaman berumur 2 minggu.
3. Pengendalian Hayati
Pemanfaatan musuh alami seperti : patogen SI-NPV (Spodoptera litura- Nuclear Polyhedrosis Virus), Cendawan Cordisep, Aspergillus flavus, Beauveria bassina, Nomuarea rileyi, dan Metarhizium anisopliae, bakteri Bacillus thuringensis, nematoda Steinernema sp,. Predator Sycanus sp,. Andrallus spinideus, Selonepnis geminada, parasitoid Apanteles sp., Telenomus spodopterae, Microplistis similis, dan Peribeae sp.
4. Pengendalian Kimiawi
Beberapa insektisida yang dianggap cukup efektif adalah monokrotofos, diazinon, khlorpirifos, triazofos, dikhlorovos, sianofenfos, dan karbaril.
· Hama trip ( Thrips tabaci )
Gejala: pada daun terdapat bercak-bercak berwarna putih, selanjutnya berubah menjadi abu-abu perak dan kemudian mengering. Serangan dimulai dari ujung-ujung daun yang masih muda.
Pengendalian:
1. Pengendalian secara bercocok tanam, penyiraman tanaman kentang terserang, pada siang hari untuk menurunkan suhu di sekitar pertanaman dan menghilangkan nimfa trips yang menempel pada daun.
2. Pengendalian fisik, dengan cara pemasangan perangkap berwarna kuning berperekat sebanyak 80 – 100 per hektar.
3. Pengendalian biologi, memanfaatkan musuh alami trips yaitu predator kumbang macan Coccinellidae.
4. Pengendalian kimia, dengan menggunakan insektisida yang diizinkan oleh Menteri Pertanian yaitu Basudin 60 EC, Mitac 200 EC, Diazenon, Bayrusil 25 EC atau Dicarzol 25 SP.
Penyakit
· Penyakit busuk daun
Penyebab: jamur Phytopthora infestans. Gejala: timbul bercak-bercak kecil berwarna hijau kelabu dan agak basah, lalu bercak-bercak ini akan berkembang dan warnanya berubah menjadi coklat sampai hitam dengan bagian tepi berwarna putih yang merupakan sporangium. Selanjutnya daun akan membusuk dan mati.
Pengendalian yang bisa dilakukan adalah:
- Kultur teknis, menanan varietas tahan, penggunaan benih sehat atau tidak menggunakan benih dari pertanaman yang terserang.
- Mekanis/Fisik, pembersihan tanaman yang terserang dan dimusnahkan.
- Pengendalian secara biologi/hayati menggunakan agen hayati cendawan Trichoderma sp atau Gliocladium sp dengan dosis penyemprotan 100 gr/10 liter air, ditambah dengan zat perekat.
- Pengendalian secara kimiawi dengan penyemprotan fungisida berbahan aktif Ziflo 90 WP dengan konsentrasi 2-4 g/l air
· Penyakit fusarium
Penyebab: jamur Fusarium sp. Gejala: infeksi pada umbi menyebabkan busuk umbi yang menyebabkan tanaman layu. Penyakit ini juga menyerang kentang di gudang penyimpanan. Infeksi masuk melalui luka-luka yang disebabkan nematoda/faktor mekanis.
Pengendalian :
1. Pengendalian secara bercocok tanam, dengan menanam benih sehat.
2. Pengendalian fisik/mekanik, dengan melakukan eradikasi selektif terhadap tanaman yang terserang dan memusnahkannya, menghindari pelukaan umbi saat tanam atau saat panen.
3. Pengendalian biologi, dengan menggunakan agens hayati Gliocladium sp dalam kompos, yang diberikan dalam lubang tanam pada saat penanaman.
Menggunakan cendawan antagonis Trichoderma spp., sifat antagonis Cendawan Trichoderma spp. telah diteliti sejak lama. Inokulasi Trichoderma spp. ke dalam tanah dapat menekan serangan penyakit layu fusarium yang menyerang tanaman tomat atau cabe, hal ini disebabkan oleh adanya pengaruh toksin yang dihasilkan cendawan ini.
Menurut Harman (1998) dalam Gultom (2008), mekanisme utama pengendalian patogen tanaman yang bersifat tular tanah dengan menggunakan cendawan Trichoderma spp.. dapat terjadi melalui :
a. Mikoparasit (memarasit miselium cendawan lain dengan menembus dinding sel dan masuk kedalam sel untuk mengambil zat makanan dari dalam sel sehingga cendawan patogen akan mati).
b. Menghasilkan
antibiotik seperti alametichin, paracelsin, trichotoxin yang
dapat menghancurkan sel cendawan melalui pengrusakan terhadap permeabilitas
membran sel, dan enzim chitinase, laminarinase yang dapat menyebabkan lisis
dinding sel.
c. Mempunyai
kemampuan berkompetisi memperebutkan tempat hidup dan
sumber makanan.
4. Pengendalian kimia, dengan menggunakan fungisida yang telah diizinkan oleh Menteri Pertanian yaitu Benlate.
· Penyakit busuk umbi (Jamur Colleotrichum coccodes)
Gejala : Daun menguning dan menggulung, lalu layu dan kering. Pada bagian tanaman yang berada dalam tanah terdapat bercak-bercak berwarna coklat. Infeksi akan menyebabkan akar dan umbi muda busuk.
Pengendalian :
1. Kultur teknis
- dengan pergiliran tanaman.
- Penggunaan benih sehat,
- Untuk mencegah terbawanya jamur oleh biji dapat dilakukan disinfestasi benih.
2. Pengendalian fisik / mekanis
Mengeradikasi tanaman terserang dengan cara dicabut dan dimusnahkan.
3. Pengendalian kimiawi
Apabila kerusakan tanaman > 25 %, dapat diaplikasikan fungisida efektif, terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Rendahnya produktivitas kentang di Indonesia disebabkan oleh beberapa hal antara lain rendahnya mutu benih yang digunakan petani, tingginya biaya produksi bibit, pengetahuan kultur teknis masih kurang, menanam kentang secara terus menerus, umur panen yang kurang tepat, penyimpanan yang kurang baik, permodalan yang terbatas dan yang paling utama adalah faktor kehilangan hasil akibat serangan hama dan penyakit (Soelarso, 1997). Maka untuk menekan keberadaan hama dan penyakit perlu dilakukan pengendalian.
Pengendalian biologi (hayati) adalah penggunaan makhluk hidup untuk membatasi populasi organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Makhluk hidup dalam kelompok ini diistilahkan juga sebagai organisme yang berguna yang dikenal juga sebagai musuh alami, seperti predator, parasitoid, patogen. Pengendalian hayati merupakan komponen yang penting dari program pengendalian hama terpadu (PHT).
3.2 Saran
Peneparan pengendalian biologi (hayati) dalam mengendalikan hama dan penyakit pada tanaman kentang merupakan alternatif pengedalian terbaik yang dapat dilakukan tanpa harus memberikan pengaruh negatif terhadap lingkungan dan sekitarnya.
DAFTAR PUSTAKA
http://dimasadityaperdana.blogspot.com/2009/06/budidaya-kentang.html(diakses tanggal 17 Nopember 2012)
Ismail Nurmasita, dan Andi Tenrirawe. Potensi Agens Hayati Trichoderma spp. Sebagai Agens Pengendali Hayati.Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Utara
http://lutfiafifah.wordpress.com/2010/10/29/pengendalian-hama-pengorok-daun-liriomyza-huidobrensis-diptera-agromyzidae-pada-tanaman-sayur-sayuran/(diakses tanggal 17 Nopember 2012)
http://rizkaal-f.blogspot.com/Pengendalian Hayati (diakses tanggal 17 Nopember 2012)
UNDER MAINTENANCE
renewable energy

lorem ipsum dolore
Erat lacininec in vel ipsum aucvorpt felieaculis lacinia ictum ntumit.usce euiso onsequat ant psuolor sit conse ctetuer adipis cing elitell eorqm coue. Sed in lacus ut enim adipig iqpede mi aliquet sit amet euis inor ut gliquam dapibus tincidunt metus. Praesnt justo dolor lobortis quis lobo.rtis dignissim pulvinar ac lorem. Vestibulum sed anteonec sagittis.

sedolorem lopori poloren dolore
Erat lacininec in vel ipsum aucvorpt felieaculis lacinia ictum ntumit.usce euiso onsequat ant psuolor sit conse ctetuer adipis cing elitell eorq.
industry recognition
Markets and Services Overview
Lacinia ictum ntumit usce euiso onsequat ant psuolorsinse ut
enim adipigqpede mi alit gliquam dus tincnt justo dolor lobortis
quis. dignissim pulvinareuismod purus.Sed ut perspiciatis unde.
Specialized Markets and Services
Lacinia ictum ntumit usce euiso onsequat ant psuolorsinse ut
enim adipigqpede mi alit
gliquam dus tincnt justo dolor lobortis quis dignissim pulvinar
ac lorem gliquam dus tincntju.
environmental projects
Aliquam congue fermentum nisl

Pellentesque sed dolor
Erat lacininec in vel ipsum aucvorpt felieaculis lacinia ictum ntumit usce euiso onsequat ant psuolor sit conse ctetuer adipis cing elitell eorqonsequat ant op.Vestibulum sed ante
Sed in lacus ut enim adipig iqpede mi aliquet sit amet euis inor ut gliquamdapibus tincidunt metus lorem ipsum.
mbyEAd https://www.genericpharmacydrug.com