Disneyland 1972 Love the old s

TINJAUAN BIOKIMIA TERHADAP RESISTENSI HAMA PADA TANAMAN SAYURAN

 

MAKALAH

TINJAUAN BIOKIMIA TERHADAP RESISTENSI HAMA PADA TANAMAN SAYURAN

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Biokimia

Disusun oleh :

Puja Kurnia. M

NPM. 2403310033

UNIFERSITAS GARUT

FAKULTAS PERTANIAN

2012



BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Hama dan penyakit tanaman merupakan kendala yang perlu selalu diantisipasi perkembangannya karena dapat menimbulkan kerugian bagi petani. Menurut Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, hama dan penyakit yang seringkali merusak tanaman padi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir adalah tikus dengan luas serangan rata-rata 124.000 ha/tahun, diikuti oleh penggerek batang (80.127 ha/tahun), wereng coklat (28.222 ha/tahun), tungro (12.078 ha/tahun), dan blas (9.778 ha/tahun).

Oleh karena itu, hama dan penyakit ini perlu mendapat prioritas penanganan di samping hama dan penyakit potensial lainnya seperti belalang, lembing batu, ganjur, dan keong mas. Pengalaman menunjukkan bahwa pengendalian hama dan penyakit dengan mengandalkan satu komponen pengendalian saja, seperti insektisida, varietas tahan atau musuh alami, belum memberikan hasil yang optimal. Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah mengeluarkan Undang-Undang No.12/1992 tentang Sistem Budi Daya Tanaman yang menekankan pentingnya pengendalian hama terpadu.

Perkembangan sistem per­tanian yang didominasi oleh sistem pertanian dengan input luar yang tinggi tersebut telah membawa dampak negatif pada ekosistem pertanian dan lingkungannya. Dampak nyata dalam ekosistem pertanian antara lain : a) Meningkatnya degradasi lahan (fisik, kimia dan biologis), b) Meningkatnya residu pestisida dan gangguan serta resistensi hama penyakit dan gulma, c) Berkurangnya keanekaragaman hayati, serta d) Gangguan kesehatan petani dan masyarakat lainnya sebagai akibat dari pengunaan pestisida dan bahan-bahan pencemaran lingkungan. Sedangkan dampak yang terjadi di luar ekosistem pertanian, adalah : a) Me­ningkatnya gangguan kesehatan masyarakat konsumen karena pencemaran bahan-bahan pangan yang diproduksi di dalam ekosistem peratanian, b) Terjadi ketidakadilan eko­nomi karena adanya prak­tek monopoli dalam pe­nyediaan sarana produksi pertanian, c) Ketimpangan sosial antar petani dan komunitas di luar petani.

Sadar atau tidak manusia sudah terlalu jauh dalam merambah dan “memperkosa” kelestarian alam untuk meme­nuhi nafsu kehidupannya. Tetapi di balik semua itu, beberapa pakar atau pemerhati juga sibuk dan berupaya keras untuk mengatasi kondisi yang berkembang. Paling tidak dengan menghimbau para pelaku untuk tidak me­ng­gunakan bahan kimia kepada alam secara berlebihan. Tidak hanya himbauan saja, upaya untuk mempraktikan pertanian yang alami juga sudah dicon­tohkan, tetapi nampaknya perkembangan pertanian kon­vensional (kita sebut se­bagai istilah pertanian yang ber­kembang saat ini) tersebut seolah tidak terusik. Para pelaku pertanian konvensional belum bisa, belum mau dan belum mampu untuk beralih ke usaha pertanian alami, yang be­lakangan lebih sering disebut sebagai usaha pertanian organik.

Pertanian organik men­cerminkan adanya saling ke­tergantungan antarkomunitas ekologi. Manusia sebagai bagian dari komunitas ekologi tidak dapat terlepas dari ling­kungan­nya, karena adanya hubungan yang saling mempengaruhi di antaranya: Hubungan manusia dengan alam yang bersifat saling mempengaruhi tersebut, mem­bawa konsekuensi ma­nusia harus dapat bersahabat dengan alam.

Manusia tidak hanya me­nerima manfaat dari alam namun harus pula sebaliknya memberikan manfaat bagi alam. Atau paling tidak manusia harus mempertahankan kondisi tersebut sebagai upaya mem­pertahankan keseimbangan alam (lingkungan). Hal inilah yang telah dilupakan atau diabaikan oleh sebagian besar manusia yang sedang intens dalam mengembangkan per­tanian konvensional.

Tidak dipungkiri bahwa, perubahan akan sangat sulit terjadi. Bahkan bila akan terjadi, maka akan mem­bu­tuhkan waktu yang sangat lama, paling tidak sama seperti proses dan perkembangan per­tum­buhan pertanian kon­vensional tersebut. Bila balik ke sejarah lama, para petani tidak pernah me­ng­gunakan bahan (kimia) bua­tan untuk penyuburan dan kesehatan  tanaman/ternak. Semua bahan yang digunakan adalah bahan alami, yaitu bahan yang tersedia dalam alam dan diciptakan secara alami.

Katakanlah pupuk, yang digunakan adalah pupuk yang berasal dari kotoran ternak, lapukan tanaman, abu dapur dan lain sebagainya. Begitu juga untuk pemberantasan serangan hama dan penyakit, yang digunakan adalah dikendalikan dengan menggunakan bahan-bahan alami seperti tanaman tuba, termasuk abu dapur juga dan lainnya. Pokoknya yang digunakan untuk tanaman adalah bahan yang berasal dari alam, yaitu bahan yang tidak memberikan dampak negatif kepada alam dan lingkungan.

Sejarah mencatat bahwa perkembangan jumlah manusia sangat cepat sementara per­tumbuhan sektor pertanian guna memenuhi kebutuhan hidup manusia berjalan lambat. Sering diibaratkan bahwa pertumbuhan jumlah manusia seperti deret ukur sementara peningkatan hasil pertanian seperti deret hitung. Sehingga, untuk mengatasi kondisi dan perkembangan tersebut  ma­nusia memanfaatkan per­kem­bangan ilmu pe­nge­tahuan dan teknologi. Sadar atau tidak, perkembangan iptek tersebut telah menciptakan manusia menjadi pembunuh makhluk hidup lainnya melalui pupuk dan pestisida.

Secara ilmiah maupun secara religius semua manusia memahami akan kondisi ter­sebut. Tetapi desakan eko­nomi, desakan hidup me­wah dan desakan nafsu keserakahan telah menjadikan sebagian manusia menjadi makhluk penghancur dan makhluk perusak alam. Mereka seolah tidak peduli dengan segala himbauan, segala ancaman, segala peringatan dan segala teriakan para ilmuwan, ahli konservasi maupun komu­nitas pencinta alam. Mereka asyik mengumpulkan rupiah dari hasil produk yang mereka ciptakan.

Sementara pikiran untuk meningkatkan nilai tambah produk yang dihasilkan dengan mengolah dan memprosesnya didalam negeri dianggap tidak penting. Pada hal melalui pengembangan dan peningkatan upaya industri pengolahan, perekonomian masyarakat akan lebih cepat tumbuh dan ber­kembang. Lapangan kerja akan terbuka, nilai tambah akan diperoleh untuk masyarakat kita sendiri, serta ke­ter­gan­tungan akan produk luar akan semakin berkurang.

1.2 Identifikasi Masalah

Dalam penulisan makalah ini penulis memaparkan dan menjelaskan tentang masalah-masalah dalam tinjauan biokmia terhadap resistensi OPT terhadap tanaman sayuran.

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan dari makalah ini adalah :

Memaparkan dan menjelaskan tentang tinjauan biokmia terhadap resistensi OPT terhadap tanaman sayuran.

Serta untuk memenuhi salah satu tugas matakuliah bersangkutan.

1.4 Sistematika Penulisan

Agar makalah ini dapat dipahami pembaca, maka penulis membuat sistematika penulisan makalah sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Pendahuluan berisikan latar belakang tinjauan biokmia terhadap resistensi OPT terhadap tanaman sayuran, identifikasi masalah, tujuan dibuatnya makalah, dan sistematika penulisan.

BAB II PEMBAHASAN

Pembahasan tentang tinjauan biokmia terhadap resistensi OPT terhadap tanaman sayuran.

BAB III KESIMPULAN dan SARAN

Kesimpulan dan saran merupakan bab terakhir yang berisikan kesimpulan dari keseluruhan pembahasan serta saran-saran.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Biokimia

Pertanian adalah kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya. Kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang termasuk dalam pertanian biasa difahami orang sebagai budidaya tanaman atau bercocok tanam (crop cultivation) serta pembesaran hewan ternak (raising), meskipun cakupannya dapat pula berupa pemanfaatan mikroorganisme dan bioenzim dalam pengolahan produk lanjutan, seperti pembuatan keju dan tempe, atau sekedar ekstraksi semata, seperti penangkapan ikan atau eksploitasi hutan.

Bagian terbesar penduduk dunia bermata pencaharian dalam bidang-bidang di lingkup pertanian, namun pertanian hanya menyumbang 4% dari PDB dunia. Sejarah Indonesia sejak masa kolonial sampai sekarang tidak dapat dipisahkan dari sektor pertanian dan perkebunan, karena sektor – sektor ini memiliki arti yang sangat penting dalam menentukan pembentukan berbagai realitas ekonomi dan sosial masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Berdasarkan data BPS tahun 2002, bidang pertanian di Indonesia menyediakan lapangan kerja bagi sekitar 44,3% penduduk meskipun hanya menyumbang sekitar 17,3% dari total pendapatan domestik bruto.

Kelompok ilmu-ilmu pertanian mengkaji pertanian dengan dukungan ilmu-ilmu pendukungnya. Inti dari ilmu-ilmu pertanian adalah biologi dan ekonomi. Karena pertanian selalu terikat dengan ruang dan waktu, ilmu-ilmu pendukung, seperti ilmu tanah, meteorologi, permesinan pertanian, biokimia, dan statistika, juga dipelajari dalam pertanian. Usaha tani (farming) adalah bagian inti dari pertanian karena menyangkut sekumpulan kegiatan yang dilakukan dalam budidaya. Petani adalah sebutan bagi mereka yang menyelenggarakan usaha tani, sebagai contoh “petani tembakau” atau “petani ikan”. Pelaku budidaya hewan ternak (livestock) secara khusus disebut sebagai peternak.

2.2 Pengertian Biokimia

Biokimia adalah kimiamahluk hidup. Biokimiawan mempelajari molekul dan reaksi kimiaterkatalisis oleh enzim yang berlangsung dalam semua organisme. Biokimia merupakan ilmu yang mempelajari struktur dan fungsi komponen selular, seperti protein, karbohidrat, lipid, asam nukleat, dan biomolekul lainnya. Saat ini biokimia lebih terfokus secara khusus pada kimia reaksi termediasi enzim dan sifat-sifat protein.

Saat ini, biokimia metabolisme sel telah banyak dipelajari. Bidang lain dalam biokimia di antaranya sandi genetik (DNA, RNA), sintesis protein, angkutan membran sel, dan transduksi sinyal.

Kebangkitan biokimia diawali dengan penemuan pertama molekul enzim, diastase, pada tahun 1833 oleh Anselme Payen. Tahun 1828, Friedrich Wöhler menerbitkan sebuah buku tentang sintesis urea, yang membuktikan bahwa senyawa organik dapat dibuat secara mandiri. Penemuan ini bertolak belakang dengan pemahaman umum pada waktu itu yang meyakini bahwa senyawa organik hanya bisa dibuat oleh organisme. Istilah biokimia pertama kali dikemukakan pada tahun 1903 oleh Karl Neuber, seorang kimiawan Jerman. Sejak saat itu, biokimia semakin berkembang, terutama sejak pertengahan abad ke-20, dengan ditemukannya teknik-teknik baru seperti kromatografi, difraksi sinar X, elektroforesis, RMI (nuclear magnetic resonance, NMR), pelabelan radioisotop, mikroskop elektron, dan simulasi dinamika molekular. Teknik-teknik ini memungkinkan penemuan dan analisis yang lebih mendalam berbagai molekul dan jalur metabolik sel, seperti glikolisis dan siklus Krebs. Perkembangan ilmu baru seperti bioinformatika juga banyak membantu dalam peramalan dan pemodelan struktur molekul raksasa.

Saat ini, penemuan-penemuan biokimia digunakan di berbagai bidang, mulai dari genetika hingga biologi molekular dan dari pertanian hingga kedokteran. Penerapan biokimia yang pertama kali barangkali adalah dalam pembuatan roti menggunakan khamir, sekitar 5000 tahun yang lalu.

2.3 Biokimia Dalam Mekanisme Resistensi OPT

Resistensi merupakan rintangan tunggal paling besar dalam keberhasilan pengendalian serangga, secara kimia dan bersifat diwariskan (diturunkan). Seringnya kontak antara serangga dengan insektisida yang digunakan untuk pengendaliannya dapat mengakibatkan terjadinya resistensi fisiologis ini. Secara biokimia proses terjadinya resistensi melalui tiga mekanisme dasar yang berperan antara lain :

a. Penurunan penetrasi insektisida pada tempat aktif (saraf dan AChE),

b. Peningkatan metabolisme insektisida dengan enzim esterase, mixed function oxidase, hidrolase, dan glutathione-s-transferase

c. Perubahan sensitivitas tempat sasaran dalam tubuh serangga, berupa insensitivitas saraf dan insensitivitas enzim asetilkholin esterase.

2.4 Proses Terjadinya Resistensi

Resistensi di lapangan yang kadangkala diindikasikan oleh menurunnya efektivitas suatu teknologi pengendalian tidak terjadi dalam waktu singkat. Resistensi pestisida berkembang setelah adanya proses seleksi yang berlangsung selama banyak generasi. Resistensi merupakan suatu fenomena evolusi yang diakibatkan oleh seleksi pada serangga hama yang diberi perlakuan insektisida secara terus menerus.

Di alam frekuensi alel individu rentan lebih besar dibandingkan frekuensi alel individu resisten, dan frekuensi alel homosigot resisten (RR) berkisar antara 10-2 sampai 10-13 (Georgiou dan Taylor 1986). Karena adanya seleksi yang terus- menerus jumlah individu yang peka dalam suatu populasi semakin sedikit dan meninggalkan individu-individu resisten. Individu resisten ini akan kawin satu dengan lainnya sehingga menghasilkan keturunan yang resisten pula. Populasi yang tetap hidup pada aplikasi pestisida permulaan akan menambah proporsi individu yang tahan terhadap senyawa dan meneruskan sifat ini pada keturunan mereka.

Karena pengguna pestisida sering menganggap bahwa individu-individu hama yang tetap hidup belum menerima dosis letal, petani mengambil tindakan dengan meningkatkan dosis pestisida dan frekuensi aplikasi. Tindakan ini yang mengakibatkan semakin menghilangnya proporsi individu yang peka. Tindakan ini meningkatkan proporsi individu-individu yang tahan dan tetap hidup. Dari generasi ke generasi proporsi individu resisten dalam suatu populasi akan semakin meningkat dan akhirnya populasi tersebut akan didominansi oleh individu yang resisten. Resistensi tidak akan menjadi masalah sampai suatu populasi didominansi oleh individu-individu yang resisten sehingga pengendalian hama menjadi tidak efektif lagi.

Salah satu faktor yang mempengaruhi laju perkembangan resistensi adalah tingkat tekanan seleksi yang diterima oleh suatu populasi serangga. Pada kondisi yang sama, suatu populasi yang menerima tekanan yang lebih keras akan berkembang menjadi populasi yang resisten dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan populasi hama yang menerima tekanan seleksi yang lemah.

Faktor-faktor yang menyebabkan berkembangnya resistensi meliputi faktor genetik, biologi dan operasional (Georgiou, 1983). Faktor genetik antara lain meliputi frekuensi, jumlah dan dominansi alel resisten. Faktor biologi-ekologi meliputi perilaku hama, jumlah generasi per tahun, keperidian, mobilitas dan migrasi. Faktor operasional meliputi jenis dan sifat insektisida yang digunakan, jenis-jenis insektisida yag digunakan sebelumnya, persistensi, jumlah aplikasi dan stadium sasaran, dosis, frekuensi dan cara aplikasi, bentuk formulasi ,dan yang lain. Faktor genetik dan biologi-ekologi lebih sulit dikelola dibandingkan faktor operasional. Faktor genetik dan biologi merupakan sifat asli serangga sehingga di luar pengendalian kita. Dengan mempelajari sifat-sifat tersebut dapat dihitung risiko munculnya populasi resisten suatu jenis serangga.

2.5 Mekanisme Resistensi

Mekanisme resistensi suatu serangga terhadap insektisida dapat dibagi menjadi 3 yaitu:

1. Peningkatan detoksifikasi (menjadi tidak beracun) insektisida oleh karena bekerjanya ensim-ensim tertentu seperti ensim dehidroklorinase (terhadap DDT), ensim mikrosomal oksidase (terhadap karbamat, OP, piretroid), glutation transferase (terhadap OP), hidrolase dan esterase (terhadap OP).

2. Penurunan kepekaan tempat sasaran insektisida pada tubuh serangga seperti asetilkolinesterase (terhadap OP dan karbamat), sistem syaraf (Kdr) seperti terhadap DDT dan piretroid.

3. Penurunan laju penetrasi insektisida melalui kulit atau integumentum seperti yang terjadi pada ketahanan terhadap kebanyakan insektisida.

Ketahanan serangga terhadap suatu jenis atau beberapa jenis insektisida disebabkan oleh lebih dari satu penyebab dan mekanisme ketahanan. Ada beberapa jenis serangga yang cepat membentuk populasi yang resisten tetapi ada yang lambat, ada juga jenis-jenis insektisida yang cepat menimbulkan reaksi ketahanan dari banyak jenis serangga. Mekanisme resistensi penyakit terhadap fungisida dan resistensi gulma terhadap herbisida pada prinsipnya tidak jauh berbeda dengan mekanisme resistensi hama terhadap insektisida.

  2.6 Tinjauan Biokimia Terhadap Penyebab Bakteri Dapat Resisten

Resistensi adalah suatu sifat tidak terganggunya kehidupan sel mikroorganisme oleh antibiotika (Setiabudy dan Gan, 1987:514).

Resistensi atau kepekaan sebenarnya bukanlah sifat yang mutlak tetapi bisa juga perubahan pada penggunaan konsentrasi antibiotika. Sifat ini merupakan mekanisme yang alamiah untuk bertahan hidup. Sifat resistensi bakteri terhadap antibiotika yang terdapat pada gen maka dikenal dengan resistensi yang disebabkan non-genetik atau disebabkan genetik.

Penyebab resistensi secara umum adalah sebagai berikut :

1. Penyebab non-genetik

2. Penyebab genetik

a. Resistensi kromosal

b. Resistensi ekstrakromosal

• Plasmid 

Faktor R (Gen Resisten)à

Faktor F (Fili Sex)à

Toksinà

• Bakteri sferoplas yang telah kehilangan dinding selnya maka akan resisten terhadap antibiotik yang merusak dinding sel seperti penisilin dan sefalosporin. Ini terjadi karena bakteri telah berubah strukturnya sehingga bakteri sebagai target antibiotik menjadi tidak cocok.

Contoh : Bakteri Streptococcus pneumoniae merubah struktur ribosomnya sehingga tidak dicocok lagi sebagai target antibiotik eritromisin

b. Resistensi ekstrakromosomal

Resistensi ekstrakromosomal sering disebut plasmid. Plasmid adalah molekul DNA yang bulat/ sirkuler. Ciri-ciri plasmid :

1. Kira-kira memepunyai berat 1-3% dari kromosom bakteri

2. Berada bebas dalam sitoplasma bakteri

3. Adakalanya dapat bersatu ke dalam kromosom bakteri

4. Dapat melakukan replikasi sendiri secara otonom

5. Dapat pula berpindah atau dapat dipindahkan dari spesies ke spesies lain

Beberapa contoh dari plasmid adalah :

Faktor R (Gen Resisten)à

Faktor R adalah satu golongan plasmid yang membawa gen-gen resisten terhadap satu atau lebih antibiotik. Gen dalam plasmid yang sering kali menyebabkan resistensi obat dengan memproduksi enzim-enzim yang dapat merusak daya kerja obat. 

Contoh : Bakteri Staphylococcus aureus pada gennya mengandung faktor R yang terdapat gen untuk replikasi mengatur sintesis protein yang mengkode enzim enzim β-laktamase yang dapat merusak struktur β-laktam pada penisilin.

Faktor F (Fili Sex)à

Bakteri Gram negatif umumunya memiliki fili pada struktur tubuhnya. Fili merupakan rambut pendek dan keras di sekililing bada sel bakteri Fili terdiri dari subunit-subunit protein. Terdapat dua jenis fili :

1. Fili yang memegang peranan dalam adhesi kuman dengan tubuh hospes

2. Fili seks, yaitu fili yang berfungsi dalam konjugasi 2 sel bakteri.

Fili seks inilah yang berperan dalam konjugasi terhadap bakteri lain dan memberikan gen resisten pada suatu antibiotik.

  Resistensi genetik yaitu suatu keadaan mikroorganisme yang semula peka terhadap suatu antibiotik pada suatu saat dapat berubah sifat genetiknya menjadi tidak peka atau memerlukan konsentrasi yang lebih besar. Perubahan ini karena gen bakteri mendapatkan elemen genetik yang terbawa sifat resistensi. Yaitu resistensi bakteri yang terjadi karena perubahan genetik meliputi kromosom maupun ekstra kromosom. Perubahan genetik dapat ditransfer atau dipindahkan dari satu spesies bakteri ke spesies lainnya melalui berbagai mekanisme.

Resistensi non-genetik adalah suatu keadaan bakteri pada stadium istirahat, sehingga bakteri tidak peka terhadap antibiotik. Atau dengan kata lain, antibiotik yang bekerja untuk membunuh bakteri pada saat aktif pembelahan maka populasi bakteri yang tidak berada pada fase pembelahan akan relatif resisten terhadap antibiotik tersebut. Resistensi non-genetik umumnya terjadi karena perubahan pada pertahanan tubuh bakteri itu sendiri atau perubahan struktur bakteri sehingga tidak sesuai lagi sebagai target antibiotik. 

2.7 Manajemen Resistensi Hama pada Tanaman Transgenik Bt

Salah satu faktor pembatas dalam usaha menaikkan produksi tanaman adalah adanya  erangan hama. Kerugian yang disebabkan oleh serangan hama di dunia diperkirakan  3% dari produksi total.Di Amerika Serikat diperkirakan lebih dari 10 ribu juta dolar digunakan untuk mengatasi persoalan hama (Gatehouse et a/., 1994). Di Indonesia,
pada tahun 1976-1977 lebih dari 450.000 ha sawah yang ditanami padi diserang oleh
hama wereng coklat dan kerugian yang disebabkan oleh hama tersebut mencapai
100 juta dolar (Oka dan Bahagiawati, 1982). Hama yang menyerang suatu jenis
tanaman adalah suatu kompleks hama. Misalnya tanaman padi sering didatangi oleh hama, tidak hanya wereng coklat tetapi hama Iain seperti penggerek batang, ulat pemakan daun, wereng punggung putih dan hijau, aphid, dan lain sebagainya. Tanaman kapas juga mempunyai kompleks hama yang berbeda dengan tanaman padi. Hama-hama kapas adalah penggerek daun, penggerek batang, penggerek buah, dan Iain
sebagainya. Demikian pula dengan jagung, kedelai, dan tanaman lain yang juga mempunyai beberapa hama utama dan hama minornya.

Teknologi yang sampai saat ini sering dipakai untuk pengendalian hama adalah pemakaian insektisida. Teknologi ini merupakan teknologi yang popular karena efeknya dapat dilihat dalam waktu tidak lama setelah aplikasi dan mudah diperoleh bila diperlukan. Namun teknologi ini relatif mahal terutama bagi petani di negara yang sedang berkembang. Di samping itu, teknologi insektisida berbahaya bagi manusia, hewan, dan spesies bukan sasaran serta lingkungan jika dilakukan tidak sesuai dengan prosedur.

Penggunaan pestisida secara tidak bijaksana dapat menimbulkan persoalan  (1)hama resisten,  (2)petani keracunan pestisida, (3)residu pestisida pada hasil pertanian,  (4)pengrusakan pada agen pengendali hayati dan serangga polinator,  (5)polusi pada air tanah, dan (6)menurunkan  iodiversitas. serta mempunyai pengaruh negatif pada hewan bukan target termasuk mamalia, burung, dan ikan (Agne et a/., 1995). Teknologi lain yang dapat dipakai untuk pengendalian hama adalah pemakaian varietas tahan. Di Indonesia, varietas tahan yang telah digunakan untuk pengendalian hama wereng coklat adalah varietas unggul tahan wereng (VUTW). Namun demikian, tidak semua hama mempunyai varietas tahan dan jika ada sumber plasma nutfah yang mengandung gen tahan terhadap hama tertentu jumlahnya sangat terbatas. Misalnya pada tanaman padi, hanya gen tahan wereng coklat dan wereng hijau yang telah diidentifikasi dan dapat digunakan dalam proses perbaikan tanaman untuk tahan hama, sedangkan hama lainnya seperti penggerek batang dan hama pemakan daun, sampai saat ini belum ditemukan gen tahan yang dapat dipakai dalam proses pemuliaan. Demikian juga dengan tanaman lain seperti jagung, kapas, dan kedelai.

Dengan berkembangnya teknologi rekombinan DNA telah membuka pintu untuk merakit tanaman tahan hama dengan rekayasa genetika. Teknologi ini mempunyai beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan teknologi konvensional, yaitu :

(1) memperluas pengadaan sumber gen resistensi karena dengan teknologi ini kita dapat menggunakan gen resisten dari berbagai sumber, tidak hanya dari tanaman dalam satu spesies tetapi juga dari tanaman yang berbeda spesies, genus atau famili, dari bakteri, fungi, dan mikroorganisme lain,

(2) dapat memindahkan gen spesifik ke lokasi yang spesifik pula di tanaman,

(3) dapat menelusuri stabilitas gen yang dipindahkan atau yang diintroduksi ketanaman dalam setiap generasi tanaman,

(4)dapat mengintroduksi beberapa gen tertentu dalam satu event transformasi sehingga dapat memperpendek waktu perakitan tanaman multiple resistant, dan 

(5) perilaku dari gen yang diintroduksi di dalam lingkungan tertentudapat diikuti dan dipelajari, seperti kemampuan gen tersebut di dalam tanaman tertentu untuk pindah ke tanaman lain yang berbeda spesiesnya (outcrossing), dan dampak negatif dari gen tersebut di dalam tanaman tertentu terhadap lingkungan dan organisme bukan target (Bahagiawati, 2000a).Tanaman transgenik Bt mengalami kemajuan komersial yang sangat nyata. Pertama dilepas secara komersial pada tahun 1996 hanya meliputi luas areal 1,1 ha.

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan

Di Indonesia fenomena resistensi hama terhadap tanaman sayuran dan pestisida sudah merupakan masalah kronis yang telah lama kita hadapi sejak kita menggunakan pestisida, namun belum pernah dilakukan evaluasi dan pendugaan mengenai kerugian sosial dan ekonomi yang diakibatkan oleh fenomena tersebut.

Indonesia belum mempunyai kebijakan dan strategi khusus untuk menanggulangi dan menghambat perkembangan populasi hama resisten karena belum memiliki kegiatan penelitian yang komprehensif, dapat dipercaya dan memadai.

3.2 Saran

Resistensi pestisida seharusnya merupakan perhatian dan keprihatinan semua stakeholders (pemangku kepentingan) termasuk Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, produsen dan distributor pestisida, peneliti, akademisi, petani secara individu dan berkelompok dan masyarakat pada umumnya.

Pemerintah perlu menyusun dan menetapkan kebijakan khusus tentang Manajemen Resistensi Pestisida dengan melakukan koordinasi lintas sektor dan lintas disiplin yang bertujuan menghambat, menunda atau menghentikan perkembangan populasi hama resisten.

Pengembangan dan penerapan Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) dan Pengelolaan Vektor Penyakit Manusia secara Terpadu perlu ditingkatkan dan diperluas, melalui kegiatan pemberdayaan petani dan masyarakat dalam menggunakan pestisida secara selektif dan hemat.

Back to posts
This post has no comments - be the first one!

UNDER MAINTENANCE

renewable energy

lorem ipsum dolore

Erat lacininec in vel ipsum aucvorpt felieaculis lacinia ictum ntumit.usce euiso onsequat ant psuolor sit conse ctetuer adipis cing elitell eorqm coue. Sed in lacus ut enim adipig iqpede mi aliquet sit amet euis inor ut gliquam dapibus tincidunt metus. Praesnt justo dolor lobortis quis lobo.
rtis dignissim pulvinar ac lorem. Vestibulum sed anteonec sagittis.

sedolorem lopori poloren dolore

Erat lacininec in vel ipsum aucvorpt felieaculis lacinia ictum ntumit.usce euiso onsequat ant psuolor sit conse ctetuer adipis cing elitell eorq.

industry recognition

1

Markets and Services Overview

Lacinia ictum ntumit usce euiso onsequat ant psuolorsinse ut
enim adipigqpede mi alit gliquam dus tincnt justo dolor lobortis
quis. dignissim pulvinareuismod purus.Sed ut perspiciatis unde.

2

Specialized Markets and Services

Lacinia ictum ntumit usce euiso onsequat ant psuolorsinse ut
enim adipigqpede mi alit
gliquam dus tincnt justo dolor lobortis quis dignissim pulvinar
ac lorem gliquam dus tincntju.

environmental projects

Aliquam congue fermentum nisl

Pellentesque sed dolor

Erat lacininec in vel ipsum aucvorpt felieaculis lacinia ictum ntumit usce euiso onsequat ant psuolor sit conse ctetuer adipis cing elitell eorqonsequat ant op.

Vestibulum sed ante

Sed in lacus ut enim adipig iqpede mi aliquet sit amet euis inor ut gliquam
dapibus tincidunt metus lorem ipsum.